PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

A. Sekilas Tentang Pendidikan Islam di Indonesia
Pendidikan merupakan pewarisan dan perkembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman pada ajaran Islam. Ciri yang membedakan antara pendidikan Islam dengan pendidikan lain adalah penggunaan ajaran Islam sebagai pedoman dalam proses pewarisan dan pengembangan budaya manusia tersebut. Obyek pendidikan Islam mencakup fakta-fakta yang berhubungan dengan perkembangan dan pertumbuhan pendidikan Islam, baik formal, informal, maupun nonformal. Hal ini sejalan dengan peranan agama dakwah yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah segala bentuk kemungkaran. Sebagaimana di Sumatera, agama Islam mulai tersiar di Jawa dari pelabuhan dan bandar-bandar tempat perhubungan dagang antara Indonesia dan luar negeri, seperti Sunda Kelapa, Cirebon, Semarang, Jepara, Surabaya, dan tempat-tempat lainnya. Banyaknya para bupati dan bangsawan di pesisir yang memeluk agama Islam membuat agama tersebut meluas di kalangan rakyat. Dari sini semakin banyaklah bandar-bandar yang berpenduduk kaum muslimin.
Untuk melengkapi posting admin lain dari blog ini, penyusun membatasi pembahasan hanya sebatas sistem pendidikan islam pada masa kerajaan Islam di Jawa (Demak dan Mataram Islam).

B. Sistem Pendidikan Pada Masa Kerajaan Islam di Demak
1. Sekilas tentang Kerajaan Demak
Salah seorang raja Majapahit bernama Sri Kertabumi mempunyai istri yang beragama Islam yang bernama Putri Cempa. Kejadian tersebut tampaknya sangat besar pengaruhnya terutama dalam rangka dakwah Islam. dari Putri Cempa inilah lahir seorang putra yang bernama Raden Fatah, yang kemudian kita ketahui menjadi Raja Islam pertama di jawa (Demak).
Tentang berdirinya kerajaan demak, para ahli sejarah tampaknya berbeda pendapat. Sebagian ahli berpendapat bahwa kerajaan Demak berdiri pada tahun 1478 M, pendapat ini berdasarkan atas jatuhnya kerajaan Majapahit. Adapula yang berpendapat, bahwa kerajaan Demak berdiri pada tahun 1518 M. Hal ini berdasarkan, bahwa pada tahun tersebut merupakan tahun berakhirnya masa pemerintahan Prabu Udara Brawijaya VII yang mendapat serbuan tentara Raden Fatah dari Demak.
Kendatipun demikian, kehadiran kerajaan Demak bukan penyebab runtuhnya Majapahit. Keruntuhanya lebih banyak disebabkan kelemahan dan kehancuran Majapahit dari dalam sendiri, setelah wafatnya Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Kerajaan majapahit didahului oleh kelemahan pemerintah pusatnya yang disusul oleh perang saudara. Misalnya perang antara Bre Wirabumi dengan putri mahkota Kusumawardani, perang saudara di Majapahit ini berkepanjangan dengan memakan waktu kurang lebih 30 tahun, yang melibatkan 6 orang ahli waris dari Hayam Wuruk. Dengan demikian keruntuhan tersebut jelas bukan disebabkan oleh agama Islam.
Kehadiran kerajaan Islam Demak dipandang oleh rakyat Majapahit sebagai cahaya baru yang membawa harapan. Kerajaan Islam itu diharapkan sebagai kekuatan baru yang akan menghalau segala bentuk penderitaan lahir dan mendatangkan kesejahteraan. Raja Majapahit sudah kenal Islam jauh sebelum kerajaan Demak berdiri. Bahkan keluarga Raja Brawijaya sendiri kenal agama Islam melalui putri Cempa yang selalu bersikap ramah dan damai.
Tentang sikap Raden Fatah tatkala terjadi penyerbuan terrhadap istana Majapahit olleh Ranawijaya Girindrawardhana yang menyebabkan tewasnya ayah handanya Raja kertabumi didalam keratin adalah sekedar bertahan dan membela hak waris atas Majapahit. Sebab kalau memang yang melakukan penyerbuan kudeta di Majapahit pada saat itu ialah Raden Fatah, mengapa pada saat tersebut dia tidak memproklamasikan dirinya sebagai pengganti sekaligus. Semua itu sebenarnya otomatis di anggap sah, dan haknya sebagai putra mahkota.
Tapi nyatanya Demak sendiri baru dinyatakan berdiri sekitar tahun 1518 M. Dalam tahun ini terjadi pertempuran antara penerus kekuasaan Majapahit Patih Udara dengan Adipati Yunus yang berkuasa di Demak. Setelah terjadinya pertempuran tersebut, kekuasaan Majapahit praktis berakhir.
Dengan berdirinya agama Islam Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di jawa tersebut, maka penyiaran agama Islam makin meluas, pendidikan dan pengajaran Islam pun bertambah maju.
2. Pelaksanaan Pendidikan Islam di Kerajaan Demak
Tentang sistem pelaksanaan pendidikan dan pengajaran agama Islam di Demak punya kemiripan dengan yang dilaksanakan di Aceh, yaitu dengan mendirikan masjid di tempat-tempat yang menjadi sentral di suatu daerah, disana diajarkan pendidikan agama dibawah pimpinan seorang Badal untuk menjadi seorang guru, yang menjadi pusat pendidikan dan pengajaran serta sumber agama Islam.
Wali suatu daerah diberi gelaran resmi, yaitu gelar sunan dengan ditambah nama daerahnya, sehingga tersebutlah nama-nama seperti: Sunan Gunung Jati, Sunan Geseng, Kiai Ageng Tarub, Kiai Ageng Sela dan lain-lain.
Memang antara Kerajaan Deamak dengan wali-wali yang Sembilan atau Walisonggo terjalin hubungan yang bersifat khusus, yang boleh dikatakan semacam hubungan timbal-balik, dimana sangatlah besar peranan para walisonggo di bidang dakwah Islam, dan juga Raden Fatah sendiri menjadi raja adalah atas rasa keputusan para wali dan dalam hal ini para wali tersebut juga sebagai penasehat dan pembantu raja.
Dengan kondisi yang demikian, maka yang menjadi sasaran pendidikan dan dakwah Islam meliputi kalangan pemerintah dan rakyat umum.
Adanya kebijaksanaan wali-wali menyiarkan agama dan memasukkan anasir-anasir pendidikan dan pengajaran Islam dalam segala cabang kebudayaan nasional Indonesia, sangat mengembirakan, sehingga agama Islam dapat tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.

C. Sistem Pendidikan Pada Masa Kerajaan Islam Mataram
1. Sekilas Tentang Kerajaan Islam Mataram
Kerajaan Demak ternyata tidak bertahan lama, pada tahun 1568 M terjadi perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang. Namun adanya perpindahan ini tidak menyebabkan terjadinya perubahan yang berarti terhadap sistem pendidikan dan pengajaran Islam yyang sudah berjalan.
Baru setelah pusat kerajaan Islam berpindah dari Pajang ke Mataram (1586), terutama di saat Sultan Agung (1613) berkuasa, terjadi beberapa macam perubahan. Sultan Agung setelah mempersatukan Jawa Timur dengan Mataram serta daerrah-daerah yang lain, sejak tahun 1630 M mencurahkan perhatianya untuk membangun negara, seperti menggalakkan pertanian, perdagangan dengan luar negeri dan sebagainya,bahkan pada zaman Sultan Agung juga kebudayaan, kesenian dan kesusastraan sangat maju.
Atas usaha dan kebijaksanaan dari Sultan Agung lah kebudayaan lama yang berdsarkan Indonesia asli dan Hindu dapat diadaptasikan dengan agama dan kebudayan Islam, seperti:
1. Grebek disesuaikan denga hari raya Idul Fitri dan Maulid Nabi. Sejak saat itu terkenal dengan Grebek Poso (Puasa) dan Grebek Mulud.
2. Gamelan sekaten yang hanya dibunyikan pada Grebek mulud, atas kehendak Sultan Agung dipukul dihalaman masjid besar.
3. Karena hitungan tahun Saka (Hindu) yang dipakai di Indonesia (Jawa) berdasarkan hitungan perjalanan matahari, berbeda dengan tahun Hijriah yang berdasarkan perjalanan bulan, maka pada tahun 1633 M atas perintahan Sultan Agung, tahun yang saka yang telah berangka 1555 saka, tidak lagi ditambah dengan hitungan matahari, melainkan dengan hitungan perjalanan bulan, sesuai dengan tahun Hijriah. Tahun yang baru disusun disebut tahun jawa, dan sampai sekarang tetap jugadipergunakan.

2. Pelaksanaan Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam
Pada zaman kerajaan Mataram, pendidikan sudah mendapat perhatian sedemikian rupa, seolah-olah tertanam semacam kesadaran akan pendidikan pada masyarakat kala itu. Meskipun tidak ada semacam undang-undang wajib belajar, tapi anak-anak usia sekolah tampaknya harus belajar pada tempat-tempat pengajian di desanya atas kehendak orang tuanya sendiri.
Ketika itu hampir disetiap desa diadakan tempat pengajian alquran, yang diajarkan huruf hijaiyah, membaca alquran, barzanji,, pokok dan dasar-dasar ilmu agama Islam dan sebagainya. Adapun cara mengajarkannya adalah dengan cara hafalan semata-mata. Di setiap tempat pengajian dipimpin oleh guru yang bergelar modin.
Selain pelajaran alquran, juga ada tempat pengajian kitab, bagi murid-murid yyang telah khatam mengaji alquran. Tempat pengajianya disebut pesantren. Para santri harus tinggal di asrama yang dinamai pondok, di dekat pesantren tersebut.
Adapun cara yang dipergunakan untuk mengajar kitab ialah dengan sistem sorogan, seorang demi seorang bagi murid-murid permulaan, dan dengan cara bendungan (halaqah) bagi pelajar-pelajar yang sudah lamadan mendalam keilmuanya.
Sementara itu pada beberapa daerah Kabupaten diadakan pesantren besar, yang dilengkapi dengan pondoknya, untuk kelanjutan bagi santri yang telah menyelesaikan pendidikan di pesantren-pesantren desa. Pesantren ini adalah sebagai lembaga pendidikan tingkat tinggi.
Kitab-kitab yang diajarkan pada pesantren besar itu ialah kitab-kitab besar dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan kata demi kata kedalam bahasa daerah dan dilakukan secara halaqah. Bermacam-macam ilmu agama telah diajarkan disini, seperti: fiqh, tafsir, hadits, ilmu kalam, tasawuf dan sebagainya. Selain pesantren besar, juga diselenggarakan semacam pesantren takhassus, yang mengajarkan satu cabang ilmu agama dengan cara mendalam atau spesialisasi.

Ratih Fuji Lestari/VII-G

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s