PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

A. Pendidik dalam Pendidikan Islam
Sama dengan teori Barat, pendidik dalam Islam adalah siapa saja yang bertanggungjawab terhadap perkembangan anak didik. Dalam islam, orang yang bertanggungjawab tersebut adalah orang tua (ayah dan ibu) anak didik.
Sama dengan teori pendidikan Barat, tugas pendidik dalam pandangan Islam secara umum adalah mendidik, yaitu mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi kognitif, afektif, maupun potensi psikomotorik.
1. Kedudukan pendidik dalam pandangan Islam
Salah satu hal yang amat menarik pada ajaran Islam adalah penghargaan Islam yang sangat tinggi terhadap guru. Begitu tingginya sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan nabi dan rasul. Hal ini dikarenakan guru selalu terkait dengan ilmu (pengetahuan), sedangkan Islam amat menghargai pengetahuan.
Ilmu datang dari Tuhan; guru pertama adalah Tuhan. Pandangan yang menembus langit ini tidak boleh tidak melahirkan sikap pada muslim bahwa ilmu itu tidak terpisah dari Allah; ilmu tidak terpisah dari guru; maka kedudukan guru amat tinggi dalam Islam.
Pandangan ini selanjutnya akan menghasilkan bentuk hubungan yang khas antara guru dan murid. Hubungan guru-murid dalam Islam tidak berdasarkan hubungan untung-rugi, apalagi untung-rugi dalam arti ekonomi. Hubungan guru-murid dalam Islam pada hakikatnya adalah hubungan keagamaan, suatu hubungan yang mempunyai nilai kelangitan.
Berbeda dengan hubungan guru-murid di Barat. Di barat guru tidak lebih dari orang yang pengetahuannya lebih banyak dari murid. Hubungan guru-murid tidak lebih dari sekedar hubungan kepentingan antara pemberi dan penerima jasa; kerena itu, hubungan juga diikat oleh pembayaran yang dilakukan berdasarkan hitungan ekonomi.
Namun, seiring berjalannya zaman, hubungan guru-murid dalam Islam sedikit demi sedikit berubah, seperti:
a.Kedudukan guru dalam Islam semakin merosot;
b.Hubungan guru-murid semakin kurang bernilai kelangitan, penghargaan muris terhadap guru semakin turun;
c.Harga karya mengajar semakin tinggi.
Dilematis memang, tugas buat kita adalah bagaimana menyesuaikan jiwa teori-teori lama itu dengan perkembangan modern.

2. Syarat pendidik dalam pendidikan Islam
Soejono, dalam Tafsir (2012:127-128) menyatakan bahwa syarat pendidik adalah sebagai berikut:
a.Tentang umur, harus sudah dewasa
b.Tentang kesehatan, harus sehat jasmani dan ruhani
c.Tentang kemempuan mengajar, ia harus ahli
d.Harus berkesusilaan dan berdedikasi tinggi
Syarat-syarat di atas adalah syarat-syarat pendidik pada umumnya. Syarat-syarat itu dapat diterima dalam islam. Akan tetapi, mengenai syarat butir kedua, Islam dapat menerima prndidik yang cacat jasmani tetapi sehat.
Munir Mursi dalam Tafsir (2012:129) menyatakan syarat terpenting pendidik dalam Islam adalah sebagai berikut:
a.Umur, harus sudah dewasa;
b.Kesehatan, harus sehat jasmani dan ruhani;
c. Keahlian, harus menguasai bidang yang diajarkannya dan menguasai ilmu mendidik (termasuk ilmu mengajar);
d.Harus berkepribadian muslim.

3. Sifat pendidik dalam pandangan Islam
Berikut merupakan inti sari dari sifat-sifat guru yang dikemukakan oleh para ahli:
a.Kasih sayang kepada anak didik
b.Lemah lembut
c.Rendah hati
d.Menghormati ilmu yang bukan pegangannya
e.Adil
f.Menyenangi ijtihad
g.Konsekuen
h.Sederhana

B. Peserta Didik dalam Pendidikan Islam
Peserta didik adalah makhluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing, mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya.
Di dalam pandangan yang lebih modern anak didik tidak hanya dianggap sebagai objek atau sasaran pendidikan, melainkan juga mereka harus diperlukan sebagai subjek pendidikan, diantaranya adalah dengan cara melibatkan peserta didik dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan pengertian ini, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.
1. Kebutuhan Peserta Didik
Kebutuhan siswa antara lain :
a.Kebutuhan Jasmani. Hal ini berkaitan dengan tuntutan siswa yang bersifat jasmaniah.
b.Kebutuhan Rohaniah. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan siswa yang bersifat rohaniah
c.Kebutuhan Sosial. Pemenuhan keinginan untuk saling bergaul sesama peserta didik dan Pendidik serta orang lain. Dalam hal ini sekolah harus dipandang sebagai lembaga tempat para siswa belajar, beradaptasi, bergaul sesama teman yang berbeda jenis kelamin, suku bangsa, agama, status sosial dan kecakapan.
d.Kebutuhan Intelektual. Setiap siswa tidak sama dalam hal minat untuk mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan. Dan peserta didik memiliki minat serta kecakapan yang berbeda beda. Untuk mengembangkan nya bisa ciptakan pelajaran-pelajaran ekstra kurikuler yang dapat dipilih oleh siswa dalam rangka mengembangkan kemampuan intelektual yang dimilikinya.

2. Karakteristik Peserta Didik
Karakteristik peserta didik adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-cintanya. Dengan demikian, penentuan tujuan belajar itu sebenarnya harus dikaitkan atau disesuaikan dengan keadaan atau karakteristik peserta didik itu sendiri.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam karakteristik peserta didik yaitu:
a.Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau Prerequisite skills, seperti misalnya kemampuan intelektual, kemampuan berfikir, mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikomotor dan lainnya.
b.Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosial (socioculture).
c.Karakteristik yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat dan lain-lain.
Pengetahuan mengenai karakteristik peserta didik ini memiliki arti yang cukup penting dalam interaksi belajar mengajar. Terutama bagi guru, informasi mengenai karakteristik peserta didik senantiasa akan sangat berguna dalam memilih dan menentukan pola-pola pengajaran yang lebih baik, yang dapat menjamin kemudahan belajar bagi setiap peserta didik.
Adapun Karakteristik Peserta Didik yang mempengaruhi kegiatan belajar peserta didik antara lain:
a.Kondisi fisik
b.Latar belakang pengetahuan dan taraf pengetahuan
c.Gaya belajar
d.Usia
e.Tingkat kematangan
f.Ruang lingkup minat dan bakat
g.Lingkungan sosial ekonomi dan budaya
h.Faktor emosional
i.Faktor komunikasi
j.Intelegensia
k.Keselaran dan attitude
l.Prestasi belajar
m.Motivasi dan lain-lain.
Dasar-dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak dalam kehidupannya, dalam hal ini keharusan untuk mendapatkan pendidikan itu jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan, antara lain :

a.Aspek Paedogogis.
Dalam aspek ini para pendidik mendorong manusia sebagai animal educandum, makhluk yang memerlukan pendidikan. Dalam kenyataannya manusia dapat dikategorikan sebagai animal, artinya binatang yang dapat dididik, sedangkan binatang pada umumnya tidak dapat dididik, melainkan hanya dilatih secara dresser. Adapun manusia dengan potensi yang dimilikinya dapat dididik dan dikembangkan kearah yang diciptakan.
b.Aspek Sosiologi dan Kultural.
Menurut ahli sosiologi, pada prinsipnya manusia adalah moscrus, yaitu makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar untuk hidup bermasyarakat.
c.Aspek Tauhid.
Aspek tauhid ini adalah aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang berketuhanan, menurut para ahli disebut homodivinous (makhluk yang percaya adanya Tuhan) atau disebut juga homoriligius (makhluk yang beragama).

Ratih Fuji Lestari/VIIG/0901055164

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s