Tujuan Pendidikan Islam

oleh: _LATIFA FITRIANI (0901055243) / 7G_

Pendidikan adalah media mencerdaskan kehidupan bangsa dan membawa bangsa ini pada era aufklarung (pencerahan). Pendidikan bertujuan untuk membangun tatanan bangsa yang berbalut dengan nilai-nilai kepintaran, kepekaan, dan kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan merupakan tonggak kuat untuk mengentaskan kemiskinan pengetahuan, menyelesaikan persoalan kebodohan, dan menuntaskan segala permasalahan bangsa yang selama ini terjadi. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 1 No. 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Dalam hal ini kita perlu mengenal siapa yang ada ada pendidikan, dialah kita yaitu manusia. Siapakah manusia? Apa itu hakekat manusia? Kedudukan dan peran manusia? Tujuan hidup manusia?

Siapakah Manusia?

Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa arabnya, yang berasal dari kata nasiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar al-uns yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Manusia cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. Seperti dalam kenyataan mahluk yang berjalan diatas dua kaki, kemampuan berfikir dan berfikir tersebut yang menentukan manusia hakekat manusia. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan mahluk yang lain. Manusia dalam memiliki karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting psikologis situasi emosional an intelektual yang melatarbelakangi karyanya. Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah. Manusia juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis, dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yang sesudahnya dengan melengkapi sisi trasendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat fundamental. Pengetahuan pencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada pengetahuan ciptaan tentang dirinya. (Musa Asy’ari, Filsafat Islam, 1999)

Hakekat Manusia

Manusia dalam konsep al Quran mengunakan kensep filosofis, seperti halnya dalam proses kejadian adam mengunakan bahasa metaforis filosofis yang penuh makna dan simbol. Kejadian manusia yakni esensi kudrat ruhaniah dan atributnya, sebagaimana dilukiskan dalam kisah adam dapat diredusir menjadi rumus;

Ruh Tuhan + Lempung Busuk Manusia

 

Ruh Tuhan dan lempung busuk merupakan dua simbol individu. Secara aktual manusia tidak diciptakan dari lempung busuk (huma’in masnun) ataupun ruh Tuhan. Karena kedua istilah itu harus dikasih makna simbolis. “Lempung busuk” merupakan simbol kerendahan stagnasi dan pasifitas mutlak. Ruh Tuhan merupakan simbol dari gerak tanpa henti kearah kesempurnaan dan kemuliaan yang tak terbatas. Pernyataan al Quran manusia merupakan gabungan ruh Tuhan dan lempung busuk. Manusia adalah suatu kehendak bebas dan bertanggungjawab menempati suatu stasiun antara dua kutub yang berlawanan yakni Allah dan Syaitan. Gabungan tersebut menjadikan mansuia bersifat dialektis. Hal ini yang menjadikan manusia sebagai realitas dialektis. Dari dialektika tersebut menjadikan manusia berkehendak bebas mampu menentukan nasibnya sendiri dan bertanggung jawab. Manusia yang ideal menurut ‘Ali Syariati adalah manusia yang telah mendialektikakan ruh tuhan dengan lempung dan yang dominant dalam dirinya adalah ruh Tuhan.(‘Ali Syariati, Paradigma Kaum Tertindas, 2001)

Manusia merupakan mahluk yang unik yang menjadi salah satu kajian filsafat, bahkan dengan mengkaji manusia yang merupakan mikro kosmos. Dalam filsafat pembagian dalam melihat sesuatu materi yang terbagi menjadi dua macam esensi dan eksistensi. Begitu pula manusia dilihat sebagai materi yang memiliki dua macam bagian esensi dan eksistensi. Manusia dalam hadir dalam dunia merupakan bagian yang berada dalam diri manusia esensi dan eksistensi. Esensi dan eksistensi manusia ini yang menjadikan manusia ada dalam muka bumi. Esensi dan eksistensi bersifat berjalan secara bersamaan dan dalam perjalananya dalam diri manusia ada yang mendahulukan esensi dan juga eksistensi. Manusia yang menjalankan esensi menjadikan ia bersifat tidak bergerak dan menunjau lebih dalam saja tanpa melakukan aktualisasi. Begitu pula manusia yang menjalankan eksistensi tanpa melihat esensi maka yang terjadi ia hanya ada tetapi tidak dapat mengada. Seperti yang telah dikekmukakan oleh ‘Ali Syariati bahwa esensi manusia merupakan dialektika antara ruh Tuhan dengan lempung dari dialektika tersebut menjadikan manusia ada dalam mengada. Proses mengadanya manusia merupakan refleksi kritis terhadap manusia dan realitas sekitar. Sebagaimana perkataan bijak yang dilontarkan oleh socrates bahwa hidup yang tak direfleksikan tak pantas untuk dijalanani. Refleksi tersebut menjadikan manusia dapat memahami diri sendiri, realitas alam dan Tuhan. Manusia yang memahami tentang dirinya sendiri ma ia akan memahami Penciptanya. Proses pemahaman diri dengan pencipta menjadikan manusia berproses menuju kesempurnaan yang berada dalam diri manusia. Proses pemahaman diri dengan refleksi kristis diri, agama dan realitas, hal tersebut menjadikan diri manusia menjadi insan kamil atau manusia sempurna.

Bagan Esensi dan Eksistensi Manusia

No

Eksistensi manusia

Esensi Kesadaran Fitrah (Basic Human Drives)

Basic Human Values (Basic Islamic Values)

Kebutuhan Dasar (Basic Human Needs)

1

Al Insan

Rasa ingin tahu

Intelektual

Intelektual

2

Al Basyar

Rasa lapar, haus, dingin

Biologis

Biologis

3

Abdullah

Sara ingin berterimakasih dan bersykur kepada tuhan

Spiritual

Spiritual

4

An-Nas

Rasa tahan sendiri dan menderita dalam kesepian

Sosial

Sosial

5

Khalifah fil ardli

Butuh keamanan, ketertiban, kedamaian, kemakmuran, keadilan dan keindahan lingkungan

Estetika

Estetika

           

Manusia yang melakukan refleksi menyadari bahwa ia mahluk yang berdimensional dan bersifat unik. Manusia menjadikan ia yang bertanggungjawab pada eksistensinya yang berbagai macam dimensi tersebut. Manusia dalam eksistensinya sebagai al insan, al basyar, ‘abdullah, annas, dan khalifah. Manusia dalam eksistensi tersebut dikarenakan potensi yang berada dalam diri manusia seperti intelektual, bilogis, spiritual, sosial dan estetika. Sifat dari manusia tersebut adalah mahluk yang bebas berkreatif dan mahluk bersejarah dengan diliputi oleh nilai-nilai trasendensi yang selalu menuju kesempurnaan. Hal tersebut menjadikan manusia yang memiliki sifat dan karaktersistik profetik. Pembebasan yang dilakukan oleh manusia adalah pembebasan manusia dari korban penindasan sosialnya dan pembebasan dari alienasi antara eksistensi dan esensinya sehingga manusia menjadi diri sendiri, tidak menjadi budak orang lain. Manusia yang bereksistensi dalam kelima tersebut menjadikan ia sebagai mahluk pengganti Tuhan dan menjalankan tugas Tuhan dalam memakmurkan bumi.

 

Kedudukan dan Peran Manusia

 

Manusia sebagai mahluk yang berdimensional memiliki peran dan kedudukan yang sangat mulia. Tetapi sebelum membahas tentang peran dan kedudukan, pengulangan kembali tentang esensi dan eksistensi manusia. Manusia yang memiliki eksistensi dalam hidupnya sebagai abdullah, an-nas, al insan, al basyar dan khalifah. Kedudukan dan peran manusia adalah memerankan ia dalam kelima eksistensi tersebut. Misalkan sebagai khalifah dimuka bumi sebagai pengganti Tuhan manusia disini harus bersentuha dengan sejarah dan membuat sejarah dengan mengembangkan esensi ingin tahu menjadikan ia bersifat kreatif dan dengan di semangati nilai-nilai trasendensi. Manusia dengan Tuhan memiliki kedudukan sebagai hamba, yang memiliki inspirasi nilai-nilai ke-Tuhan-an yang tertanam sebagai penganti Tuhan dalam muka bumi. Manusia dengan manusia yang lain memiliki korelasi yang seimbang dan saling berkerjasama dala rangka memakmurkan bumi. Manusia dengan alam sekitar merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa syukur kita terhadap Tuhan dan bertugas menjadikan alam sebagai subjek dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia dalam pelaksana pengganti Tuhan sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. Maqasid asy-syari’ah merupakan tujuan utama diciptanya sebuah hukum atau mungkin nilai-esensi dari hukum, dimana harus menjaga agama, jiwa, keturunan, harta, akal dan, ekologi. Manusia yang memegang amanah sebagai khalifah dalam melakukan keputusan dan tindakannya sesuai dengan maqasid asy-syari’ah.

 

                Tujuan Hidup Manusia

Pada hakikatnya tujuan manusia dalam menjalankan kehidupannya mencapai perjumpaan kembali dengan Penciptanya. Perjumpaan kembali tersebut seperti kembalinya air hujan kelaut. Kembalinya manusia sesuai dengan asalnya sebagaimana dalam dimensi manusia yang berasal dari Pencipta maka ia kembali kepada Tuhan sesuai dengan bentuknya misalkan dalam bentuk imateri maka kembali kepada pencinta dalam bentuk imateri sedangkan unsur mteri yang berada dalam diri manusia akan kembali kepada materi yang membentuk jasad manusia. Perjumpaan manusi dengan Tuhan dalam tahapan nafs, yang spiritual dikarenakan nafs spiritual yang sangat indah dan Tuhan akan memanggilnya kembali nafs tersebut bersamanya. Nafs yang dimiliki oleh manusia merupakan nafs yang terbatas akan kembali bersama nafs yang mutlak dan tak terbatas, dan kembalinya nafs manusia melalui ketauhidan antara iman dan amal sholeh. Pertemuan nafs manusia dengan nafs Tuhan merupakan perjumpaan dinamis yang sarat muatan kreatifitas dalam dimensi spiritualitas yang bercahaya. Kerjasama kreatifitas Tuhan dengan manusia dan melalui keratifitasnya manusia menaiki tangga mi’raj memasuki cahaya-Nya yang merupakan cahaya kreatifitas abadi. (Musa Asy’ari, Filsafat Islam, 1999)

 

Proses bertemunya nafs manusia dengan Tuhan dalam kondisi spiritual tercapai jika manusai berusaha membersihkan diri dari sifat yang buruk yang ada padanya. Perjumpaan nafs tersebut dapat dilihat pada sufi yang memenculkan berbagai macam ekspresi dalam perjumpaannya. Sebagaimana yang terjadi pada al Halaj, Yazid al Bustami Rabiah al Adawiyah dan yang lain mereka memiliki ekspreasi dan kelakuan yang berbeda ketika meresakan berteumnya dengan Pencipta. Tetapi dari sini manusai mendaki tangga mi’raj menuju nafs Tuhan dengan cinta dan karena cinta pula terbentuknya alam serta manusia. Setelah menyatunya manusia dalam dimensi spiritual dengan Pencipta, lantas tak memperdulikan dengan yang lain dengan menyatu terus dengan pencipta. Tetapi manusia setalah menyatu, memahami cinta pada Pencita itu dimanifestasikan cinta tersebut untuk sesama manusia dan alam. Proses penebaran cinta tersebut menjadikan manusia dapat bermanfaat pada yang lain menjadika diri sebagai cerminan Tuhan dalam muka bumi. Pencitraan Tuhan dalam diri manusia menjadikan ia sebagai insan kamil dan dalam ajaran agama dapat menjadi rahmat bagi yang lain baik sesama manusia ataupun alam.

 

Kembali pada persoalan pendidikan yang sangat berkaitan erat pada manusia. Menurut Soemarno Sudarsono bahwa pendidikan menggambarkan perbedaan pengertian antara identitas, jati diri, karakter dan aspek-aspek kepribadian manusia. Identitas itu lebih menunjukkan penampilan fisik; jati diri merupakan sifat dasar hakiki, sifat yang berasal dari Tuhan; karakter adalah watak yang merupakan pengembangan jati diri manusia. Karakter merupakan aspek kepribadian manusia, selain intelektual, temparamen, dan keterampilan. Erich Fromm, seorang fisuf hebat, berpendapat bahwa karakter adalah alas an-alasan, motivasi, yang disadari ataupun tidak, seseorang melakukan tindakan-tindakan tertentu (the behavioral traits) dengan sifat-sifat karakter (the character traits). Erich Fromm menyampaikan bahwa hakikat karakter harus dicari dalam corak hubungan seseorang dengan lingkungannya, benda (asimilasi), maupun manusia (sosialisasi) itu produktif atau tidak. Dengan demikian, karakter pribadi sangat menentukan karakter sebuah bangsa, termasuk bangsa Indonesia.

Sedangkan Benjamin S. Bloom, mengembangkan teori yang dikenal dengan “Teori Tiga Domain”. “Tiga Domain” tersebut adalah kognitif, afektif dan psikomotorik. Termasuk pula, tujuan pendidikan Islam juga dapat digunakan sebagai dasar guna membangun karakter bangsa: takwa, ilmu dan teknologi, dan akhlak. Hal ini terkait dengan tiga inti ajaran Islam, yakni aqidah dengan memperkokoh keyakinan; syariah dengan melakukan penegakan aturan; dan akhlak dengan melakukan perbaikan perilaku. Oleh karenanya, dari beberapa teori tersebut dapat disampaikan bahwa karakter bangsa sesungguhnya dapat dilakukan melalui perilaku yang baik di tengah bermasyarakat atau mencontoh para perilaku masyarakat sebelumnya yang memiliki perilaku baik, untuk kemudian bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Islam, hal tersebut disebut uswatun hasanah

 

Pendidikan yang Islami

 

H. Abuddin Nata (2001) menjelaskan bahwa fungsi pendidikan yang islami adalah sebagai persiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun kerajaan dunia yang makmur, dinamis, harmonis, dan lestari sebagaimana diisyaratkan oleh Allah. Dengan demikian pendidikan islam mestinya adalah pendidikan yang paling ideal, karena kita hanya berwawasan kehidupan secara utuh dan multi dimensional. Tidak hanya berorientasi untuk membuat dunia menjadi sejahtera dan gegap gempita, tetapi juga mengajarkan bahwa dunia sebagai ladang, sekaligus sebagai ujian untuk dapat lebih baik di akhirat.

Dengan demikian, pendidikan yang islami mengemban misi melahirkan manusia yang tidak hanya memanfaatkan persediaan alam, tetapi juga manusia yang mau bersyukur kepada yang membuat manusia dan alam, memperlakukan manusia sebagai khalifah dan memperlakukan alam tidak hanya sebagai obyek penderita semata, tetapi juga sebagai komponen integral dari sistem kehidupan. Pendidikan yang islami, tidak lain adalah upaya mengefektifkan aplikasi nilai-nilai agama yang dapat menimbulkan transformasi nilai dan pengetahuan secara utuh kepada manusia, masyarakat dan dunia pada umumnya.

 

Tujuan Pendidikan Islam

                Tujuan merupakan sarana yang hendak dicapai dan sekaligus merupakan pedoman yang memberi arah bagi segala aktivitas yang dilakukan. Pendidikan Islam sebagai suatu proses yang mengarah kepada pembentukkan kepribadian manusia juga diletakkan pada tujuan yang ideal dalam perspektif islami.

                Abdul Fattah Jalal merumuskan tujuan pendidikan Islam kepada tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umumnya adalah menjadikan manusia sebagai abdi atau hamba Allah. Tujuan umum ini akan melahirkan tujuan-tujuan khusus dengan rasional bahwa Islam juga mengatur kehidupan dunia. Tujuan khusus ini sebagai penjabaran makna ibadah yang mencakup segala amal, pikiran, atau perasaan manusia yang dihadapkan kepada Allah.

                Abdul Fattah lebih lanjut memperinci tujuan khusus pendidikan Islam tersebut kepada amalan-amalan, seperti mencari keutamaan ilmu, berbuat baik kepada bapak ibu, menafkahkan harta di jalan Allah, berbuat baik pada kaum kerabat, menafkahkan harta tanpa rasa kikir dan berlebihan, jujur dalam menimbang, rendah hati, tidak sombong, adil, menjauhi kekejian dan permusuhan, serta menepati janji. Menurutnya, jika ibadah-ibadah semacam ini diikuti oleh manusia dalam hidupnya dan dalam interaksi sosialnya, niscaya menjadi lebih baik dan harmonis.

                Zakiah Daradjat memformulasikan tujuan pendidikan Islam kepada tujuan umum, tujuan akhir, tujuan sementara, dan tujuan operasional yang dikaitkan dengan pendidikan formal. Tujuan umum berupa pembentukan pribadi seseorang menjadi “insan kamil” dengan pola takwa. Pembentukan insan kamil dapat mengalami fluktuasi, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Oleh karena itu, tujuan itu berlaku sepanjang hidup.

                Tujuan akhir pendidikan Islam dapat dipahami dari firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebesar-besarnya takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS 3:102). Artinya, insan kamil yang meninggal dalam keadaan berserah diri kepada Allah merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan Islam.

                Tujuan sementara berbentuk tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam kurikulum pendidikan formal. Sedangkan tujuan operasional berupa tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Dalam pendidikan formal tujuan operasioanl dikembangkan menjadi tujuan instruksional umum dan khusus.

                Menurut Imam Al-Ghazali, tujuan utama pendidikan Islam adalah beridah dan taqarrub kepada Allah dan kesempurnaan insan yang tujuannya kebahagian dunia dan akhirat. Sementara itu, Athiyah Al-Abrasyi merumuskan tujuan pendidikan Islam dalam lima pokok sasaran: 1) pembentukan akhlak mulia, 2) persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat, 3) persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi pemanfatannya, 4) menumbuhkan roh ilmiah para pelajar dalam mengkaji ilmu, dan 5) mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga ia mudah mencari rezeki.

                Dalam hal tujuan pendidikan, Al-Zarnuji mengemukakan bahwa setiap pelajar dalam menuntut ilmu seharusnya melandaskan tujuannya untuk mencapai rida Ilahi, kebahagiaan akhirat, melenyapkan kebodohan, menghidupkan ajaran agama, dan menjaga kelestarian agama. Di samping itu, bersyukur kepada Allah atas nikmat akal dan kesehatan jasmani dipandangnya juga sebagai tujuan menuntut ilmu. Ia juga membolehkan tujuan menuntut ilmu untuk mencapai suatu kedudukan dalam rangka menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, menyebarkan kebenaran dan menegakkan agama.

                Pandangan-pandangan tentang tujuan pendidikan Islam di atas masih menitikberatkan pada ibadah, pembentukan insan kamil, kebahagiaan dunia dan akhirat, dan mulai melangkah kepada kepentingan-kepentingan kehidupan dunia (rezeki dan keilmuan). Kemudian, dalam konferensi dunia Islam yang diadakan di Mekah tahun 1977, tujuan pendidikan Islam diarahkan selangkah lebih maju lagi. Dalam konferensi tersebut disepakati bahwa, “pendidikan Islam seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang  dalam kepribadian manusia secara total melalui latihan, semangat, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh. Karena itu, pendidikan dalam segala aspeknya secara spriritual, intelektual, imajinatif, fisikal, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif. di samping itu, memotivasi semua aspek tersebut ke arah kebaikan dan kesempurnaan.

 

Sumber :

Halim Sani, Abdul. Manifesto Gerakan Intelektual Profetik. 2011. Yogyakarta: Samudra Biru

Yamin, Moh. Menggugat Pendidikan Indonesia belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara. 2008. Malang: Ar-Ruzz Media

Fathurrohman, Pupuh dkk. Stategi Belajar Mengajar melalui penanaman konsep umum & konsep islami. 2007. Bandung: Refika Aditama

Ardi Widodo, Sembodo. Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam. 2003. Yogyakarta: Nimas Multima 

-LATIFA FITRIANI (0901055243) / 7G-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s