EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Bismillahhirrohmannirrohim

A.    Pengertian Evaluasi Pendidikan

Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti tindakan atau proses untuk menentukan nilai sesuatu atau dapat diartikan sebagai tindakan atau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pendidikan. Dalam bahasa Arab evaluasi dikenal dengan istilah imtihan yang berarti ujian. Dan dikenal pula dengan istilah khataman sebagai cara men ilai hasil akhir dari proses pendidikan. Evaluasi bertujuan mengetahui siapa di antara peserta didik yang cerdas dan kurang cerdas dan dilakukan tindakan yang tepat bagi mereka. Bagi peserta didik yang cerdas dapat diberikan pelajaran tambahan yang meningkatkan kecerdasannya, dan bagi yang kurang cerdas dapat diberikan perhatian khusus dalam rangka mengajar kekurangannya.

Dari segi istilah evaluasi dapat diartikan sebagai proses membandingkan situasi yang ada dengan kriteria terentu karena evaluasi adalah proses mendapatkan informasi dan menggunakannya untuk menyusun penilaian dalam rangka membuat keputusan. Jika kata evaluasi tersebut dihubungkan dengan kata pendidikan, maka dapat diartikan sebagai proses membandingkan situasi yang ada dengan kriteria tertentu terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan.

Namun demikian, pada umumnya evaluasi pendidikan lebih diarahkan pada upaya untuk mengetahui dengan jelas obyektif terhadap hasil belajar yang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan. Selain istilah evaluasi, terdapat pula istilah lainnya yang hampir berdekatan, yaitu pengukuran dan penilaian. Sementara orang memang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut sebagai suatu pengertian yang sama, sehingga dalam memaknainya hanya tergantung dari kata mana yang siap untuk diucapkan. Tetapi, sementara yang lain, membedakan ketiga istilah tersebut.

B. Kedudukan Evaluasi Pendidikan

Evaluasi pendidikan memiliki kedudukan yang amat strategis, karena hasil dari kegiatan evaluasi dapat digunakan sebagai input untuk melakukan perbaikan kegiatan pendidikan.  Ajaran islam juga menaruh perhatian yang besar terhadap evaluasi tersebut. Allah SWT, dalam berbagai firman-Nya dalam kitab suci Al-Qur’an memberitahukan kepada kita, bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian proses pendidikan yang telah dilaksanakan oleh pendidik.

Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat, lalu Allah berfirman: “Sebutkanlah kepada-ku nama-nama benda itu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” Mereka menjawab: “ Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. Al-baqarah (2): 31-32).

C. Fungsi Evaluasi

Evaluasi dalam proses belajar mengajar merupakan komponen yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proses. Kepentingan evaluasi tidak hanya mempunyai makna bagi proses belajar siswa, tetapi juga memberikan umpan balik terhadap program secara keseluruhan. Oleh karena itu, inti evaluasi adalah pengadaan informasi bagi pihak pengelola proses belajar-mengajar untuk membuat macam-macam keputusan. Dalam hubungan ini A. Tabrani Rusyan dan kawan-kawan, mengatakan bahwa evaluasi mempunyai berbagai fungsi, yaitu :

  1. Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan intruksional secara komprehensif yang meliputi aspek pengetahuan, sikap, dan tingkah laku.
  2. Sebagai umpan balik yang berguna bagi tindakan berikutnya dimana segi-segi yang sudah dapat dicapai lebih ditingkatkan lagi dan segi-segi yang dapat merugikan sebanyak mungkin dihindari.
  3.  Bagi pendidik, evaluasi berguna untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar; bagi peserta didik berguna untuk mengetahui bahan pelajaran yang diberikan dan dikuasainya; dan bagi masyarakat untuk mengetahui berhasil atau tidaknya program-program yang dilaksanakan.
  4. Untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan program remidial bagi murid.
  5. Untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajar.
  6. Untuk menempatkan murid dalam situasi belajar mengajar yang tepat.
  7. Untuk mengenal latar belakang murid yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar.

 

D.Prinsip Evaluasi

Dalam pelaksanaan evaluasi perlu diperhatikan beberapa prinsip sebagai dasar pelaksanaan penilaian. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Evaluasi hendaknya didasarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif. Yaitu pengukuran yang meliputi aspek kognitif, efektif, dan psikomotorik.
  2. Evaluasi harus dibedakan antara penskoran dengan angka dan penilaian dengan kategori. Penskoran berkenaan dengan aspek kuantitif (dapati dihitung), dan penilaian berkenaan dengan aspek kualitatif (mutu).
  3. Sedangkan yang kedua berkenaan dengan penempatan.
  4. Pemberian nilai hendaknya merupakan bagian intergral dari proses belajar-mengajar.
  5. Penilaian hendaknya bersifat komparabel artinya dapat dibandingkan antara satu tahap penilaian dengan tahap penilaian lainnya.
  6. Sistem penilaian yang dipergunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri, sehingga tidak membingungkan.

Penilaian tersebut dapat berhasil jika dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip berikut :

  1. Prinsip kesinambungan (kontinuitas); penilaian hendaknya dilakukan secara berkesinambungan.
  2. Prinsip menyeluruh, maksudnya penilaian harus mengumpulkan data mengenai seluruh aspek kepribadian.
  3. Prinsip obyektif, penilaian diusahakn agar seobyektif mungkin.
  4. Prinsip sistematis, yakni penilaian harus dilakukan secara sistematis dan teratur.

E. Ciri-ciri Evaluasi dalam Pendidikan

Ciri pertama dari evaluasi dalam pendidikan, yaitu bahwa penilaian dilakukan secara tidak langsung. Dalam contoh ini, akan mengukur kepandaian melalui ukuran kemampuan mengerjakan soal.

Berkenaan dengan tanda-tanda anak yang pandai atau intelegen, seorang ahli ilmu jiwa pendidikan bernama Carl Witherington, mengemukakan pendapatnya bahwa anak yang intelegen (cerdas) adalah anak yang mempunyai :

  1. Kemampuan untuk bekerja dengan bilangan.
  2. Kemampuan untuk menggunakan bahasa dengan baik.
  3. Kemampuan untuk menangkap sesuatu yang baru (cepat mengikuti pembicaraan orang lain).
  4. Kemampuan untuk mengingat-ingat.
  5. Kemampuan untuk memahami hubungan (termasuk menangkap kelucuan).
  6. Kemampuan untuk berfantasi.

Ciri kedua dari evaluasi pendidikan yaitu penggunaan ukuran kuantitatif. Penilaian pendidikan bersifat kuantitatif artinya menggunakan simbol bilangan sebagai hasil pertama pengukuran. Setelah itu lalu diinterpresentasi ke bentuk kualitaitif. Ciri ketiga dari evaluasi pendidikan, yaitu bahwa evaluasi pendidikan menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap, karena IQ 105 termasuk anak normal. Anak lain yang hasil pengukuran IQ-nya 80, menurut unit ukurannya termasuk anak dungu.

Ciri keempat dari penilaian pendidikan adalah bersifat relatif artinya tidak sama atau tidak selalu tetap dari satu waktu ke waktu yang lain. Ciri kelima dalam penelitian pendidikan adalah bahwa dalam penilaian pendidikakn itu sering terjadi kesalahan-kesalahan.

F. Macam- macam Evaluasi dan pengembangan Pendidikan Islam

Dilihat dari segi fungsi dan tujuannya, evaluasi dan pengembangan pendidikan islam terdiri dari berbagai macam sebagai berikut:

  1. Evaluasi      formatif merupakan evaluasi ini ditujukan untuk mengetahui hasil kegiatan      belajar mengajar yang telah dilakukan oleh guru dan dicapai oleh peserta      didik.
  2. Evaluasi      sumatif yaitu evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui pelajaran dalam      suatu semester, atau akhir tahun dalam rangka menentukan menjenjang      berikutnya.
  3. Evaluasi      placement (penempatan), evaluasi ini dilakukan dengan tujuan untuk      mengetahui kemampuan peserta didik sebelum mengikuti pelajaran.
  4. Evaluasi      diagnosis, yaitu evaluasi yang ditujukn untuk mengetahui dan menganalisis      tentang keadaan peserta didik.
  5.  Penilaian      kokurikuler dan ekstrakulikuler atau evaluasi internal dan eksternal.

G. Prinsip Evaluasi

Pelaksanaan evaluasi agar akurat dan bermanfaat baik bagi peserta didik, pendidik ataupun pihak yang berkepentingan, maka harus memperhatikan prinsip-prisip sebagai berikut:

  1. Valid, Evaluasi mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis tes yang terpercaya dan shahih. Artinya ada kesesuaian alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran.
  2. Berorientasi kepada kompetensi, Dengan berpijak pada kompetensi, maka ukuran-ukuran keberhasilan pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan terarah.
  3. Berkelanjutan/Berkesinambungan (kontinuitas). Evaluasi harus dilakukan secara terus menerus dari waktu ke waktu untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan peserta didik, sehingga kegiatan dan unjuk kerja peserta didik dapat dipantau melalui penilaian. Dalam ajaran Islam sangatlah diperhatikan kontinuitas, karena dengan berpegang prinsip ini, keputusan yang diambil oleh seseorang menjadi valid dan stabil serta menghasilkan suatu tindakan yang menguntungkan.
  4. Menyeluruh (Komprehensif), Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, meliputi kepribadian, ketajaman hafalan, pemahaman, ketulusan, kerajinan, sikap kerja sama, tanggung jawab, dan sebagainya, atau dalam taksonomi Benjamin S. Bloom lebih dikenal dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Kemudian Anderson dan Cratwallmengembangkannya menjadi 6 aspek yaitu mengingat, mengetahui, aplikasi, analisis, kreasi dan evaluasi.
  5. Bermakna, Evaluasi diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Untuk itu evaluasi hendaknya mudah difahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
  6. Adil dan objektif, Evaluasi harus mempertimbangkan rasa keadilan bagi peserta didik dan objektif berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak boleh dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat emosional dan irasional. Jangan karena kebencian menjadikan ketidakobjektifan evaluasi.
  7. Terbuka, Evaluasi hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan tentang keberhasilan peserta didik jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.
  8. Ikhlas, Evaluasi dilakukan dengan niat dan yang bersih, dalam rangka efisiensi tercapainya tujuan pendidikan dan bai kepentingan peserta didik.
  9. Praktis, Evaluasi dilakukan dengan mudah dimengerti dan dilaksanakan dengan beberapa indikator, yaitu: a) hemat waktu, biaya dan tenaga; b) mudah diadministrasikan; c) mudah menskor dan mengolahnya; dan d) mudah ditafsirkan
  10. Dicatat dan akurat, Hasil dari setiap evaluasi prestasi peserta didik harus secara sistematis dan komprehensif dicatat dan disimpan, sehingga sewaktu-waktu dapat dipergunakan.

 

Alhamdulillahhirrobilamin.

Siti jaronah N, Pangestu Arum L, Nisa uswatun hasanah/ 7G/bhs. indo

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s