METODE DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Bismillahnirrohmanirrohim

  Pendidikan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sebab pendidikan secara alami telah menjadi kebutuhan manusia. Pendidikan telah menjadikan manusia berada pada posisi dwi tunggal. Di mana manusia manusia menjadi subjek sekaligus objek pendidikan. Pendidikan merupakan persoalan yang unik sekaligus komleks, menyangkut semua komponen yang terkandung didalam pendidikan. Diantaranya menyangkut metode yang digunakan atau ditetapkan.

A. Pengertian Metode dan Pendekatan

Kata metode berasal dari bahasa Yunani. Secara etimologi, kata metode berasal dari dari dua suku perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui dan hodos berrti “jalan” atau “cara”. Dalam Bahasa Arab metode dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan dalam bahasa Inggris metode disebut method yang berarti cara dalam bahasa Indonesia.

B.  Dasar Metode Pendidikan Islam

Dalam penerapannya, metode pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau social peserta didik dan pendidik itu sendiri. Untuk itu dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umummetode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dasar metode pendidikan Islam itu diantaranya adalah dasar agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.

  1. Dasar Agamis,      maksudnya bahwa metode yang digunakan dalam pendidikan Islam haruslah      berdasarkan pada Agama. Sementara      Agama Islam merujuk pada Al Qur’an dan      Hadits. Untuk itu, dalam pelaksanannya berbagai metode yang digunakan oleh      pendidik hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan yang muncul secara efektif      dan efesien yang dilandasi nilai-nilai Al Qur’an dan Hadits.
  2. Dasar Biologis, Perkembangan      biologis manusia mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya.      Semakin dinamis perkembangan biologis seseorang, maka dengan sendirinya      makin meningkat pula daya intelektualnya. Untuk itu dalam menggunakan      metode pendidikan Islam seorang guru harus memperhatikan perkembangan      biologis peserta didik.
  3. Dasar Psikologis. Perkembangan      dan kondisi psikologis peserta didik akan memberikan pengaruh yang sangat      besar terhadap penerimaan nilai pendidikan dan pengetahuan yang      dilaksanakan, dalam kondisi yang labil pemberian ilmu pengetahuan dan      internalisasi nilai akan berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan.      Oleh Karenanya Metode pendidikan Islam baru dapat diterapkan secara      efektif bila didasarkan pada perkembangan dan kondisi psikologis peserta      didiknya. Untuk itu seorang pendidik dituntut untuk mengembangkan potensi      psikologis yang tumbuh pada peserta didik. Sebab dalam konsep Islam akal      termasuk dalam tataran rohani.
  4. Dasar sosiologis. Saat pembelanjaran      berlangsung ada interaksi antara pesrta didik dengan peserta didik dan ada      interaksi antara pendidik dengan peserta didik, atas dasar hal ini maka      pengguna metode dalam pendidikan Islam harus memperhatikan landasan atau      dasar ini. Jangan sampai terjadi ada metode yang digunakan tapi tidak      sesuai dengan kondisi sosiologis peserta didik,
    1. sulit untuk dicapai.
    1. Macam-macam Metode dan Pendekatan dalam Pendidikan Islam

    C.  Macam-macam metode

    Sebagai ummat yang telah dianugerahi Allah Kitab AlQuran yang lengkap dengan petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal sebaiknya menggunakan metode mengajar dalam pendidikan Islam yang prinsip dasarnya dari Al Qur’an dan Hadits. Diantara metode- metode tersebut adalah

    a. Metode Ceramah

    Metode ceramah adalah cara penyampaian inforemasi melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. Prinsip dasar metode ini terdapat di dalam Al Qur’an :

    فَلَمَّآ أَنجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنفُسِكُم مَّتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

    Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Yunus : 23)

    b. Metode Tanya jawab

    Metode Tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca.

    Prinsip dasar metode ini terdapat dalam hadits Tanya jawab antara Jibril dan Nabi Muhammad tentang iman, islam, dan ihsan.

    Selain itu ada juga hadits yang lainnya seperti hadits berikut ini :

    حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح وَقَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا بَكْرٌ يَعْنِي ابْنَ مُضَرَ كِلَاهُمَا عَنْ ابْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَفِي حَدِيثِ بَكْرٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالُوا لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالَ فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا.

    Artinya: Hadis Qutaibah ibn Sa’id, hadis Lâis kata Qutaibah hadis Bakr yaitu ibn Mudhar dari ibn Hâd dari Muhammad ibn Ibrahim dari Abi Salmah ibn Abdurrahmân dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw. bersabda; Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sana lima kali sehari. Bagaimana pendapat kalian? Apakah masih akan tersisa kotorannya? Mereka menjawab, tidak akan tersisa kotorannya sedikitpun. Beliau bersabda; Begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa. (Muslim, I: 462-463)

     

    حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَنْ بَكْرِ بْنِ سَوَادَةَ الْجُذَامِيِّ عَنْ صَالِحِ بْنِ خَيْوَانَ عَنْ أَبِي سَهْلَةَ السَّائِبِ بْنِ خَلَّادٍ قَالَ أَحْمَدُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا أَمَّ قَوْمًا فَبَصَقَ فِي الْقِبْلَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ فَرَغَ لَا يُصَلِّي لَكُمْ….

    Artinya: Hadis Ahmad ibn Shalih, hadis Abdullah ibn Wahhab, Umar memberitakan padaku dari Bakr ibn Suadah al-Juzâmi dari Shâlih ibn Khaiwân dari Abi Sahlah as-Sâ’ib ibn Khallâd, kata Ahmad dari kalangan sahabat Nabi saw. bahwa ada seorang yang menjadi imam salat bagi sekelompok orang, kemudian dia meludah ke arah kiblat dan Rasulullah saw. melihat, setelah selesai salat Rasulullah saw. bersabda ”jangan lagi dia menjadi imam salat bagi kalian”… (Sijistani, t.t, I: 183).

    Hadis di atas tergolong syarîf marfū’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah hâfiz, şiqah dan şiqah azaly. Memberikan hukuman (marah) karena orang tersebut tidak layak menjadi imam. Seakan-akan larangan tersebut disampaikan beliau tampa kehadiran imam yang meludah ke arah kiblat ketika salat. Dengan demikian Rasulullah saw. memberi hukuman mental kepada seseorang yang berbuat tidak santun dalam beribadah dan dalam lingkungan social.
    Sanksi dalam pendidikan mempunyai arti penting, pendidikan yang terlalu lunak akan membentuk pelajar kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati. Sanksi tersebut dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, dengan teguran, kemudian diasingkan dan terakhir dipukul dalam arti tidak untuk menyakiti tetapi untuk mendidik. Kemudian dalam menerapkan sanksi fisik hendaknya dihindari kalau tidak memungkinkan, hindari memukul wajah, memukul sekedarnya saja dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam.

    c. Metode targieb dan tarhieb. Metode targieb dan      tarhieb yaitu cara memberikan pelajaran dengan memberikan dorongan                   (motivasi) untuk memperoleh kegembiraan bila mendapat suskses dalam      kebaikan, sedangkan bila tidak sukses karena tidak mengikuti petunjuk yang      benar akan mendapatkan kesusahan.

    d. Metode keteladanan. Metode keteladanan merupakan      salah satu metode pendidikan melalui pemberian contoh, baik berupa tingkah      laku, sifat, cara berfikir, dan sebagainya. Namun keteladanan disini yang      dimaksud adalh keteladan yang baik.

    D. dalam pendidikan terdapat suatu pendekatan diantaranya:

    1. Pendekatan pengalaman. Yaitu      pemberian pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman      nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini peserta didik diberi      kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individual      maupun kelompok. Ada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru      yang paling baik.
    2. Pendekatan pembiasaan.      Pembiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa      direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja yang kadang kala      tanpa dipikirkan. Pendekatan pembiasaan dalam pendidikan berarti      memberikan kesempatan kepada peserta didik terbiasa mengamalkan ajarannya.
    3. Pendekatan emosional.      Pendekatan emosional adalah usaha untuk menggugah perasaan dan emosi      peserta didik dalam meyakini ajaran Islam serta dapat merasakan mana yang      baik dan mana yang buruk.
    4. Pendekatan Rasional, yaitu      suatu pendekatan mempergunakan rasio dalam memahami dan menerima kebesaran      dan kekuasaan Allah. Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana      yang baik dan mana yang buruk, bahkan dengan akal yang dimilikinya juga      manusia juga dapat membenarkan dan membuktikan adanya Allah.
    5. Pendekatan fungsional, yaitu      suatu pendekatan dalam rangka usaha menyampaikan materi agama dengan      menekankan kepada segi kemanfaatan pada peserta didik dalam kehidupan      sehari-hari, sesuai dengan tingkat perkembangannya. Ilmu Agama yang      dipelajari anak di sekolah bukanlah hanya sekedar melatih otak tetapi      diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik dalam kehidupan individu      maupun dalam kehidupan social.
    6. Pendekatan keteladanan.      Pendekatan keteladanan adalah memperlihatkan keteladanan baik yang      berlangsung melalui penciptaan kondisi pergaulan yang akrab antara      personal sekolah, perilaku pendidik dan tenaga kependidikan lainnya yang      mencerminkan akhlak terpuji, maupun yang tidak langsungmelalui suguhan      ilustrasi berupa kisah-kisah ketauladanan.

    jika hal ini terjadi bukan      mustahil tujuan pendidikan akan sulit untuk dicapai.

 

Alhamdulillah.

Siti Jaronah. N/7G

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s